Nikmatnya Goyangan Pantat Ibu RT saat Di Entot

luscious_perscilla_33_002Cerita Sex : Nikmatnya Goyangan Pantat Ibu RT saat Di Entot – Usia tidak lagi menjadi penghalang untuk orang yang ingin menikmati kepuasan seks, dan kepuasan seks bisa didapat baik dengan teman, tetangga ataupun Ibu RT> nah cerita tante girang kali ini adalah tentang seks dengan Ibu Rt yang seksi, sebagai ibu Rt yang mendampingi Pak rt, walau umur sudah cukup matang, penampilan tetap harus enak dilihat. Usia Bu hartono sebenarnya tidak muda lagi bisa disebut ibu setengah baya.
Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak hartono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak hartono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak hartono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.
Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona.
Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut. Kisahnya berawal ketika Pak hartono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan.
Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu. “Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak hartono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?” Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya. Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya.
Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak hartono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah. Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. “Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har,” kataku menenangkan. Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. “Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi,” katanya kepada rekan-rekannya.
Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar. Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Cerita Sex : Nikmatnya Goyangan Pantat Ibu RT saat Di Entot
Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas. Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. “Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit,” katanya. Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har.
Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. “Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai,” suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang. Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya. Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya.
Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah, .. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam. Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih.
Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin. Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini). Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang.
Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya. Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit. Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total.
Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan.
Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam. “Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian,” katanya. “Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi,” jawabku. Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat.
Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak hartono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu.
Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan. “Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?” “Kata siapa, Rid?” “Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran,” jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har. “Rupanya kamu gemar membaca ya.
Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua,” ujarnya lirih. Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku. “Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut,” katanya lirih. Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu.
Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya. Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan – karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur – aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.
Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh. Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku.
Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu.
Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya. Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har.
Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan. Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras.
Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku. “Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang,” katanya lirih. “Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.” Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku.
Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan. Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah.
Slep penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya. Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat.
Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman. Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Cerita Sex : Nikmatnya Goyangan Pantat Ibu RT saat Di Entot
Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang. “Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,” “Aku juga enak Rid, uh.. uh.. uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah,” Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku. “Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shh, ah, .. ah,” “Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah,” Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku.
Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan. “Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat,” kata Ia sambil masih tiduran di dekatku. Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu. “Ya Maaf,.. soalnya tadi,..” “Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita,” ujarnya lirih. Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya.
Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian. Dan seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan dengannya. Dan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami.
Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak hartono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada diriku. Sebab sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrat seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat ditahan. Itu pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua.
Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah. “Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau” ujarnya. Ia setuju dengan saran adik iparnya.
Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Dan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku. Sekitar pukul 22.00 malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya.
Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik. “Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang,” katanya berpesan lewat telepon. Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul 23.00 aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu kilometer. Segalanya berjalan sesuai rencana.
Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut. Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama kikuk. Sebab selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya.
Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di sampingku. Ia ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus. “Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa,” katanya lirih. Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. “Saya ingin melihat semua milikmu,” kataku “Tetapi aku malu Rid. Soalnya aku sudah tua,.” Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya.
Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna kecoklatan. Indah dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar menantang. Kesempatan melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar.
Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan. Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah pusarnya.
Hingga ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan suaminya. Tetapi bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh,.. mencuat menantang sebesar biji jagung. Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku. Segar dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian. “Ih,.. jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah..ah.. ah,” Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang nikmatnya.
Goyangannya kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas. “Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat kalah. Sekarang gantian deh Aku mainkan punyamu,” ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu.
Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang kubendung. Terasa ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas kepalaku. Pola persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas. Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya.
Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang duburnya. Rupanya ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang mengangkang. Dan aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama terkapar. Ambruk di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu. Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali.
Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus. “Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga,” katanya. Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku keluar. Ah,.. indah dan nikmat rasanya. Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu.
Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk menengok. Hingga hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab. Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam.

3 thoughts on “Nikmatnya Goyangan Pantat Ibu RT saat Di Entot

  1. DAHSYATNYA SIKSA BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT
    Ibnu Abbas, berkata, Maksud Hadist: “Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Awalnya orang yang meninggalkan solat itu, bukanlah dia termasuk golongan Islam. Allah tidak terima tauhid dan imannya dan tidak ada faedah shodakah, puasa dan syahadatnya”. Alhadist. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, bukan saja diperlihatkan tentang balasan orang yang beramal baik, tetapi juga diperlihatkan balasan orang yang berbuat mungkar, diantaranya siksaan bagi yang meninggalkan Sholat fardhu.
    Mengenai balasan orang yang meninggalkan Sholat Fardu: “Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”. (Riwayat Tabrani). Orang yang meninggalkan Sholat akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqor. Maksud Firman Allah Ta’ala: “..Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata: “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam Neraka Saqor ?”. Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “kami termasuk dalam kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat”.
    Saad bin Abi Waqas bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang melalaikan Sholat, maka jawab Baginda SAW, “yaitu mengakhirkan waktu Sholat dari waktu asalnya hingga sampai waktu Sholat lain. Mereka telah menyia-nyiakan dan melewatkan waktu Sholat, maka mereka diancam dengan Neraka Wail”. Ibn Abbas dan Said bin Al-Musaiyib turut menafsirkan hadist di atas “yaitu orang yang melengah-lengahkan Sholat mereka sehingga sampai kepada waktu Sholat lain, maka bagi pelakunya jika mereka tidak bertaubat Allah menjanjikan mereka Neraka Jahannam tempat kembalinya”. Maksud Hadist: “Siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah kafir dengan nyata”. Berdasarkan hadist ini, Sebagaian besar ulama (termasuk Imam Syafi’i) berfatwa: Tidak wajib memandikan, mengkafankan dan mensholatkan jenazah seseorang yang meninggal dunia dan mengaku Islam, tetapi tidak pernah mengerjakan sholat. Bahkan, ada yang mengatakan haram mensholatkanya.
    Siksa Neraka Sangat Mengerikan, Mereka yang meninggalkan sholat akan menerima siksa di dunia dan di alam kubur yang terdiri dari tiga siksaan.
    TIGA JENIS SIKSA DI DALAM KUBUR YAITU:
    1. Kuburnya akan berhimpit-himpit serapat mungkin sehingga meremukkan tulang-tulang dada.
    2. Dinyalakan api di dalam kuburnya dan api itu akan membelit dan membakar tubuhnya siang dan malam tiada henti-henti.
    3. Akan muncul seekor ular yang bernama “Sujaul Aqra” Ia akan berkata, kepada si mati dengan suaranya bagai halilintar: “Aku disuruh oleh Allah memukulmu sebab meninggalkan sholat dari Subuh hingga Dhuhur, kemudian dari Dhuhur ke Asar, dari Asar ke Maghrib dan dari Maghrib ke Isya’ hingga Subuh”. Ia dipukul dari waktu Subuh hingga naik matahari, kemudian dipukul dan dibenturkan hingga terjungkal ke perut bumi karena meninggalkan Sholat Dhuhur. Kemudian dipukul lagi karena meninggalkan Sholat Asar, begitulah seterusnya dari Asar ke Maghrib, dari Maghrib ke waktu Isya’ hingga ke waktu Subuh lagi. Demikianlah seterusnya siksaan oleh “Sajaul Aqra” hingga hari Qiamat.
    Didalam Neraka Jahanam terdapat wadi (lembah) yang didalamnya terdapat ular-ular berukuran sebesar tengkuk unta dan panjangnya sebulan perjalanan. Kerjanya tiada lain kecuali menggigit orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat semasa hidup mereka. Bisa ular itu juga menggelegak di di badan mereka selama 70 tahun sehingga hancur seluruh daging badan mereka. Kemudian tubuh kembali pulih, lalu digigit lagi dan begitulah seterusnya. Maksud Hadist: “orang yang meninggalkan sholat, akan Allah hantarkan kepadanya seekor ular besar bernama “Suja’ul Akra”, yang matanya memancarkan api, mempunyai tangan dan berkuku besi, dengan membawa alat pemukul dari besi berat”.
    SIAPAKAH ORANG YANG SOMBONG? Orang yang sombong adalah orang yang diberi penghidupan tapi tidak mau sujud pada yang menjadikan kehidupan itu yaitu, Allah Rabbul Alaamin, Tuhan sekalian alam. Maka bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan di langit pada TuhanNya kecuali Iblis dan manusia yang sombong diri. Siapakah orang yang telah mati hatinya? Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang diberi petunjuk melalui ayat-ayat Qur’an, Hadits dan cerita-cerita kebaikan namun merasa tidak ada kesan apa-apa di dalam jiwa untuk bertaubat.
    SIAPAKAH ORANG DUNGU KEPALA OTAKNYA? Orang yang dungu kepala otaknya adalah orang yang tidak mau melakukan ibadah tapi menyangka bahwa Allah tidak akan menyiksanya dengan kelalaiannya itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya. Siapakah orang yang bodoh? Orang yang bodoh adalah orang yang bersungguh-sungguh berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya diabaikan.
    Bahaya Meninggalkan Sholat Barang siapa yang (sengaja) meninggalkan solat fardhu lima waktu:
    1. SUBUH – Allah Ta’ala akan menenggelamkannya kedalam neraka Jahannam selama 60 tahun hitungan akhirat. (1 tahun diakhirat=1000 tahun didunia=60,000 tahun).
    2. DHUHUR – Dosa sama seperti membunuh 1000 orang muslim.
    3. ASAR – Dosa seperti menghacurkan Ka’bah.
    4. MAGHRIB – Dosa seperti berzina dengan ibu-bapak sendiri.
    5. ISYA’ – Allah Ta’ala akan berseru kepada mereka: “Hai orang yang meninggalkan sholat Isya’, bahwa Aku tidak lagi ridha’ engkau tinggal dibumiKu dan menggunakan nikmat-nikmatKu, segala yang digunakan dan dikerjakan adalah berdosa kepada Allah Ta’ala”. Maksud Firman Allah Ta’ala: “Mereka yang menyia-nyiakan solat dan mengikuti hawa nafsu kepada kejahatan, maka tetaplah mereka jatuh ke dalam satu telaga api neraka.” (Maryam : 59). Kehinaan bagi yang meninggalkan sholat, DI DUNIA :
    1. Allah Ta’ala menghilangkan berkat dari usaha dan rezekinya.
    2. Allah Ta’ala mencabut nur orang-orang mukmin (sholeh) dari pada (wajah) nya.
    3. Ia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.
    KETIKA SAKARATUL MAUT :
    1. Ruh dicabut ketika ia berada didalam keadaan yang sangat haus.
    2. Dia akan merasa amat azab/pedih ketika ruh dicabut keluar.
    3. Dia akan Mati Buruk (su’ul khatimah).
    4. Ia akan dirisaukan dan akan hilang imannya.
    KETIKA DI ALAM BARZAKH :
    1. Ia akan merasa susah (untuk menjawab) terhadap pertanyaan (serta menerima hukuman) dari Malaikat Mungkar dan Nakir yang sangat menakutkan.
    2. Kuburnya akan menjadi sangat gelap.
    3. Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang-tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).
    4. Siksaan oleh binatang-binatang berbisa seperti ular, kala jengking dan lipan.
    Malaikat Jibril as, telah menemui Nabi Muhammad SAW, dan berkata: “Ya Muhammad.. Tidaklah diterima bagi orang yang meninggalkan sholat yaitu: Puasanya, Shodaqahnya, Zakatnya, Hajinya dan Amal baiknya”. Orang yang meninggalkan Sholat akan diturunkan kepadanya tiap-tiap hari dan malam seribu laknat dan seribu murka. Begitu juga Para Malaikat di langit ke-7 akan melaknatnya.
    Ya Muhammad..! Orang yang meninggalkan Sholat tidak akan mendapat syafa’atmu dan ia tidak tergolong dari umatmu.. Tidak boleh diziarahi ketika ia sakit, tidak boleh mengiringi jenazahnya, tidak boleh beri salam pada nya, tidak boleh makan minum dengan nya, tidak boleh bersahabat dengannya, tidak boleh duduk besertanya, tidak ada Agama baginya, tidak ada kepercayaan bagi nya, tidak ada baginya Rahmat Allah dan ia dikumpulkan bersama dengan orang Munafiqiin pada lapisan Neraka yang paling bawah (diazab dengan amat dahsyat..). Sabda Nabi Muhammad SAW, Maksud Hadist: “Perjanjian (perbedaan) diantara kita (orang islam) dengan mereka (orang kafir) ialah Sholat, dan barangsiapa meninggalkan Sholat sesungguhnya ia telah menjadi seorang kafir”. (Tirmizi).
    Wahai Saudaraku Ummat Islam, mari kita merenung sejenak tentang ancaman azab bagi yang meninggalkan sholat Fardhu. Apa guna kita hidup di dunia sekalipun berlimpah harta jika kita termasuk golongan orang-orang yang (kafir) meninggalkan sholat..?, barang siapa meninggalkan Sholat, maka ia telah menjadi kafir dengan nyata…! Orang yang meninggalkan sholat, ia wajib menerima azab Allah Ta’ala..! Orang yang meninggalkan sholat, tidak akan mendapat Syafa’at Nabi Muhammad SAW, karena mereka telah menjadi kafir dan orang kafir tidak berhak mendapat Syafa’at Nabi Muhammad SAW. Ancaman Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat bukan sekedar gertakan belaka. Sungguh ancaman Allah Ta’ala akan terbukti kelak di akhirat. “…sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji”.
    LIMPAHAN PAHALA SHALAT LIMA WAKTU

    Tidak diragukan lagi bahwa pahala yang akan didapatkan oleh orang yang
    melaksanakan shalat lima waktu amatlah besar. Bahkan, tidak hanya pahala shalat yang
    akan ia dapat, akan tetapi juga pahala wudhu yang menjadi salah satu syarat sahnya shalat
    dan pahala langkah kakinya menuju masjid. Kedua hal tersebut menjadi rutinitas yang ia
    kerjakan sebelum melaksanakan shalat di masjid.
    Hal ini sepantasnya diketahui agar jiwa kita termotivasi untuk mendapatkan
    ganjaran yang demikian besarnya. Demikian pula agar hilang rasa malas yang dapat
    menghalangi seseorang dari mendapatkan ganjaran dari Allah yang luar biasa. Karena, setan
    dengan berbagai cara selalu berusaha membuat manusia malas dari mengerjakan shalat
    lima waktu atau menyempurnakannya.

    BEBERAPA KEUTAMAAN WUDHU DAN BERJALAN KE MASJID
    Di antara keutamaan wudhu adalah dihapuskannya dosa-dosa yang dilakukan oleh
    anggota badan kita. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh
    Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    bersabda: “Barangsiapa berwudhu, kemudian dia menyempurnakan wudhunya, niscaya
    keluarlah kesalahan-kesalahannya (dosa-dosanya) dari jasadnya, hingga keluar dari bawah
    kuku-kukunya.” (HR. Muslim no. 254, Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhish Shalihin 2/224)
    Wudhu yang dapat menghapuskan dosa tidaklah sembarang wudhu, akan tetapi
    wudhu yang dilakukan dengan tata cara yang sesuai dengan tata cara yang diajarkan Nabi
    Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat beliau. Hal ini diterangkan
    dalam sebuah hadits dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu, beliau berkata, “Aku pernah
    melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, lalu (ketika
    itu) Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu (dengan tata cara) seperti ini, niscaya
    diampuni dosanya yang telah lalu. Dan shalat, serta langkahnya menuju masjid menjadi
    tambahan (pahala).” (HR. Muslim no. 229, Bahjatun Nadhirin 2/225)
    Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    “…..berwudhu (dengan tata cara) seperti ini..…” menunjukkan, bahwa wudhu yang dapat menghapuskan dosa adalah yang sesuai dengan cara wudhu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ulama menjelaskan bahwa “Wudhu tidaklah menghapuskan dosa, kecuali jika sesuai dengan tata
    cara wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Kemudian, langkah kaki seorang muslim yang telah berwudhu dari rumahnya, lalu
    menuju masjid dalam rangka melaksanakan shalat lima waktu juga mengandung pahala dan
    kebaikan yang sangat besar. Yaitu, salah satu langkah kakinya mengangkat derajat dan
    langkah yang satunya menghilangkan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
    sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang telah bersuci
    di rumahnya, kemudian dia menuju ke salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah
    (masjid-masjid) yang ada untuk melaksanakan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban
    yang ada, maka langkah-langkah kakinya, salah satu (langkah)nya menghapus dosa dan
    yang lainnya mengangkat derajat.” (HR. Muslim no. 666, Bahjatun Nadhirin 2/237)
    Dari sini kita pahami, bahwa semakin jauh jarak yang ia tempuh, semakin besar pula
    pahalanya. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang
    paling jauh langkahnya menuju shalat, kemudian yang paling jauh lagi, dan yang menunggu
    shalat sampai dia melaksanakan shalat bersama dengan imam lebih besar pahalanya dari
    pada yang shalat, kemudian tidur.” (HR. Bukhari 2/137 dalam Fathul Baari, Muslim no. 662,
    Bahjatun Nadhirin (2/239)

    BEBERAPA KEUTAMAAN SHALAT LIMA WAKTU
    [1]. Dapat mencegah dari perbuatan dosa dan maksiat.
    Maksudnya adalah shalat lima waktu yang ditegakkan dengan memenuhi rukun-
    rukunnya, syarat-syaratnya, serta khusyu’ dalam pelaksanannya. Allah ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”
    (QS. al-‘Ankabut: 45)
    Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Keberadaan shalat
    mencegah dari perbuatan keji dan mungkar adalah sebagai berikut, bahwa seorang hamba
    yang menegakkan shalat, menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, serta
    khusyu’, maka bersinarlah hatinya, bersihlah sanubarinya, bertambahlah imannya, semakin
    kuat kecintaannya kepada kebaikan, serta berkurang, atau bahkan hilang keinginannya
    kepada keburukan. Maka sudah barang tentu, konsisten dirinya dalam menegakkan dan
    menjaga shalat dengan bentuk yang seperti tersebut di atas mampu mencegah dari
    perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara tujuan terbesar shalat dan buahnya.” (Taisirul
    Karimir Rahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 885)
    Demikianlah shalat yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Sehingga,
    manakala kita dapati seorang muslim yang secara lahiriah telah melaksanakan shalat,
    namun masih saja dia melakukan perbuatan keji maupun mungkar, maka bukan ayatnya
    yang salah, akan tetapi dialah yang patut mengoreksi diri. Sudahkah kita penuhi rukun-
    rukun shalat, sudahkah kita penuhi syarat-syaratnya dan sudahkah kita khusyu’?!
    Seandainya kita mampu khusyu’, maka seberapa lamakah ke-khusyu’-an itu bertahan?!

    [2]. Sebagai penghapus dosa.
    Hal ini berlaku, jika seorang hamba menyempurnakan wudhu sebelum
    melaksanakan shalat, kemudian dia ikhlas dalam melaksanakannya, serta khusyu’ ketika
    shalat, ditambah dia tinggalkan dosa-dosa besar, seperti berzina, minum khamr (arak),
    mencuri, dan lain-lain.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang
    datang kepadanya shalat wajib, lalu dia sempurnakan wudhunya, serta khusyu’nya, kecuali
    shalat tersebut menjadi penebus bagi apa yang telah berlalu dari dosa-dosa, selama tidak
    dilanggar dosa-dosa besar dan yang demikian itu satu masa seluruhnya.” (HR. Muslim no.
    228, Bahjatun Nadhirin 2/233)

    [3]. Nabi mengumpamakan shalat lima waktu dengan sebuah sungai yang airnya jernih
    yang mampu membersihkan noda dan kotoran.
    Sehingga orang yang shalat lima waktu seolah-olah dia mandi di sungai tersebut
    sehari lima kali. Tentu saja kotoran ditubuhnya hilang tak berbekas. Sebagaimana hadits
    dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana pendapat kalian dengan sebuah sungai
    yang ada di depan pintu (rumah) seorang dari kalian, yang dia mandi di situ setiap hari
    sebanyak lima kali, apakah masih tersisa sedikit dari kotorannya?” Para shahabat
    menjawab, “Tidak tersisa sedikitpun dari kotorannya.” Nabi bersabda, “Demikian inilah
    permisalan shalat yang lima (waktu), Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat
    lima waktu tersebut.” (HR. Bukhari 2/11 dalam Fathul Baari, Muslim no. 667, Bahjatun
    Nadhirin, 2/232)
    Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang mencium wanita yang haram baginya,
    laki-laki tersebut menyesal dan merasa bersalah. Kemudian ia menghadap Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam dan menceritakan masalahnya itu, maka Allah ta’ala menurunkan ayat,
    “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore). Dan pada bahagian
    permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus
    (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114) Kemudian, orang itu bertanya lagi
    kepada Nabi , “Apakah ayat ini hanya untukku saja?” Nabi menjawab, “Untuk umatku
    seluruhnya.” (HR. Bukhari 2/8 dalam Fathul Baari, Muslim (2763), Bahjatun Nazhirin 2/233)

    [4]. Akan menjadi cahaya, penolong dan bukti di akhirat kelak bagi yang benar-benar
    menjaganya.
    Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang shalat lalu
    beliau bersabda, “Barangsiapa yang menjaga shalat (lima waktu), maka shalat itu menjadi
    cahaya baginya, bukti keterangan dan penyelamat pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang
    tidak memelihara shalat (lima waktu), maka shalat itu baginya tidak akan menjadi cahaya,
    bukti keterangan dan penyelamat. Dan pada hari kiamat nanti ia akan (dikumpulkan)
    bersama-sama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Thabrani dan
    Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, al-Masaa-il, Jilid 2 hal. 278, Abdul Hakim Abdat)

    Hadits tersebut, selain menerangkan tentang keutamaan yang besar bagi siapa saja
    yang menjaga shalat lima waktu, juga mengabarkan tentang ancaman dan kerugian yang
    menimpa orang yang tidak menjaga shalat lima waktu. Kerugian tersebut adalah: Shalat
    yang tidak dia kerjakan dengan baik dan benar itu, di hari kiamat kelak tidak akan menjadi
    cahaya, bukti dan penyelamat, pada hari kiamat mereka akan dikumpulkan bersama orang-
    orang yang terlaknat, seperti Qarun, Fir’aun, Haman (Perdana Menteri Fir’aun) dan Ubay bin
    Khalaf. Perinciannya:
    • Orang yang meninggalkan shalat, karena disibukkan dan dibimbangkan dengan harta,
    maka dia akan dikumpulkan di Neraka bersama dengan Qarun,
    • Orang yang meninggalkan shalat, karena memegang pemerintahan dan kekuasaan,
    maka dia akan dikumpulkan di Neraka bersama dengan Fir’aun,
    • Orang yang meninggalkan shalat, karena mempunyai kedudukan di dalam
    pemerintahan, maka dia akan dikumpulkan di Neraka bersama dengan Haman,
    • Sedang orang yang meninggalkan shalat, karena urusan perniagaan atau perdagangan,
    maka dia akan dikumpulkan di Neraka bersama dengan Ubay bin Khalaf.
    Demikianlah keterangan Syaikhul Islam kedua Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
    rahimahullah. (Lihat, al-Masaa-il Jilid 2 hal. 278-279, karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir
    Abdat hafizhahullah)
    Orang yang meninggalkan shalat lima waktu dan dia mengingkari wajibnya shalat,
    maka para ulama sepakat tentang kafirnya orang ini. Sedangkan, orang yang meninggalkan
    shalat lima waktu, akan tetapi dia masih mengakui kewajiban shalat lima waktu, maka inilah
    yang diperselisihkan para ulama tentang kekafirannya.
    Yang jelas, orang yang meninggalkan shalat lima waktu adalah orang yang sangat
    merugi, karena amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika
    shalatnya baik, maka beruntunglah dia dan jika shalatnya buruk, maka dia merugi dan
    sengsara.
    Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali
    dihisab dari amal ibadah seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya
    itu baik, maka dia sukses dan beruntung, dan jika rusak shalatnya, maka dia merugi dan
    sengsara …” (HR. Abu Dawud no. 864, at-Tirmidzi 413, dan dishahihkan oleh penulis kitab
    Bahjatun Nadhirin, 2/255)

    MATEMATIKA PAHALA SHALAT WAJIB DAN DOSA DIANTARA WAKTU SHALAT
    Sebagaimana tadi telah kita bahas dan hitung, berdasarkan data-data di atas dapat kita simpulkan dalam sehari semalam (24 Jam) point yang dapat kita coba hitung adalah sebagai berikut :
    • Point Dosa Antara Waktu Shalat dan Istirahat/Tidur (15 Jam), dengan menganggap kita memiliki waktu potensial berbuat dosa dalam rentang waktu 15 jam, dimana anggaplah setiap detiknya ada saja satu dosa kecil yang kita perbuat (bukan termasuk dosa besar). Maka Pointnya adalah sebanyak 54.000 detik (Point).
    • Point Shalat Kriteria 1 : Shalat Wajib Berjama’ah di Masjid dan di Awal Waktu (Utama), sebanyak 1.701.060 Point.
    • Point Shalat Kriteria 2 : Shalat Wajib di Awal Waktu dan Dikerjakan Sendiri (Alasan Udzur/Berhalangan karena Sakit, sehingga tidak mampu pergi ke Masjid), sebanyak 50.080 Point.
    • Point Shalat Kriteria 3 : Mengulur-ulur Pelaksanaan Shalat Wajib baik Berjama’ah/Sendiri (Melalaikan Shalat), sebanyak 32.080 Point.
    • Point Shalat Kriteria 4 : Tidak Shalat, minimal sebanyak 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari.
    Dari catatan hasil perhitungan di atas, dapat kita buat perbandingan antara mendirikan Shalat wajib yang lima waktu tersebut, kriteria manakah yang benar-benar menjadi penebus dosa sebagaimana sabda Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
    A. Kriteria 1
    • Point Pahala Shalat Kriteria 1 : 1.701.060 Point.
    • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
    • Sisa Pahala : (1.701.060 Point) – (54.000 Point)
    = 1.647.060 Point Pahala. (POSITIF)
    B. Kriteria 2
    • Point Pahala Shalat Kriteria 2 : 50.080 Point.
    • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
    • Sisa Pahala : (50.080 Point) – (54.000 Point)
    = – 3.920 Point Dosa. (MINUS)
    C. Kriteria 3
    • Point Pahala Shalat Kriteria 3 : 32.080 Point.
    • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
    • Sisa Pahala : (32.080 Point) – (54.000 Point)
    = – 21.920 Point Dosa. (MINUS)
    D. Kriteria 4
    • Point Pahala Shalat Kriteria 4 : NOL Point.
    • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
    • Point Dosa Tidak Shalat : 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari.
    • Sisa Pahala : (0) – (54.000 Point + 528.768.000)
    = – 528.822.000 Point Dosa. (MINUS)
    Berdasarkan data-data di atas jelaslah bahwa yang dikatakan Shalat sebagai penebus dosa yang paling sempurna adalah Shalat berdasarkan kriteria 1, yakni Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid dan di Awal Waktu. Karena, yang memberikan hasil positif hanyalah Shalat kriteria 1, sedangkan kriteria lainnya negatif atau minus. Perhitungan di atas setiadaknya dapat menjawab beberapa pendapat ulama yang menganggap Shalat berjama’ah di Masjid ‘hanya’ lebih utama saja, atau dengan kata lain bukanlah suatu kewajiban bagi tiap-tiap individu. Ada yang berpendapat fardhu kifayah, dan sunnah muakad. Ternyata, berdasarkan hitung-hitungan sederhana di atas, perbedaannya sungguh sangat jauh sekali. Sungguh merugi orang yang tidak mengerjakan Shalat sesuai kriteria 1, karena Shalat wajib memang merupakan kewajiban untuk dikerjakan secara berjama’ah di Masjid dan di awal waktu yang telah ditentukan. Bahkan jika dikerjakan secara tepat waktu namun hanya dikerjakan sendirian saja, tetap tidak sebanding dengan Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid di awal waktu.
    Memang, angka-angka tersebut bukanlah mutlak, namun semua kriteria Shalat tersebut menggunakan variabel yang sama sebagai faktor penghitung dan pengurang. Anda bisa saja merubah beberapa variabel yang dirasa kurang sesuai, misalnya point-point pelaksanaan Shalat anda lebih sempurna dan dosa-dosa kecil yang dikerjakan baik sengaja ataupun tidak disengaja tidak sebesar itu. Silahkan saja, asalkan variabel yang digunakan harus sama. Atau sebaliknya, jika anda merasa dosa harian anda kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan data-data di atas, bisa anda tambahkan, misalnya saja kemungkinan tiap detik berbuat 10 dosa sekaligus. Bisa saja, misalnya seseorang yang merokok di angkot, dan angkot tersebut penuh sementara anda enak-enakan merokok dan mencemari seisi angkot yang berisi 12 orang misalnya. Dosa anda pun akan tercatat minimal 12 point setiap saat-nya, karena kita tidak tahu asap rokok yang kita hembuskan ke luar mencemari siapa saja dan selama berapa lama. Itu baru contoh merokok, misalnya anda seorang wanita dan tidak berjilbab, karena rambut adalah aurat yang harus ditutupi, maka setiap pasang mata yang melihat anda merupakan point-point dosa yang terus menerus mengisi tabungan dosa anda.
    Bayangkan, anda misalnya cantik dan menawan sehingga di mata lawan jenis anda merupakan sosok yang menarik perhatian dan sangat menggoda pandangan. Berpakaian serba terbuka dan mencolok. Kemudian anda jalan-jalan ke mal, dan tentu saja banyak yang akan memandang anda. Entah berapa point dosa setiap detiknya masuk ke rekening dosa anda, melalui orang-orang yang memandang dan ‘mengagumi’ anda. Atau sebaliknya seorang pria yang ke mal mengantar istri pergi belanja, dan mata-nya ikut-ikutan ‘belanja’ melihat yang cantik-cantik dan menarik. Bisa-bisa, pulang dari mal panen dosa. Banyak contoh-contoh lainnya. Silahkan coba analisa dan hitung sendiri, yang jelas angka-angka di atas bukanlah baku, karena masing-masing individu pasti berbeda situasi dan kondisinya. Sekali lagi, hitung-hitungan di atas hanyalah standar atau contoh saja guna membuktikan bahwa Shalat Berjama’ah di Masjid dan di awal waktu memiliki manfaat yang sangat dahsyat sebagai penggempur dosa-dosa kita. Sungguh benar-benar sangat merugi orang-orang yang menganggap remeh terhadap Shalat Berjama’ah di Masjid. Wallahu’alam.
    BANGUN KESIANGAN, SHOLAT SUBUH TETAP WAJIB
    Shalat Subuh Wajib Walaupun Kesiangan
    Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Ada yang bertanya kalau boleh mengerjakan shalat subuh kalau kesiangan, dan matahari sudah naik. Ini jawabannya.
    Shalat subuh adalah salah satu shalat yang wajib dikerjakan pada waktunya oleh semua orang Muslim, kecuali ada halangan yang sah seperti wanita yang haid, dan sebagainya. Kalau kesiangan dan bangun telat, ada orang yang menjadi bingung apakah masih boleh shalat atau tidak. Mereka menjadi bingung karena mereka bertanya kepada teman dan teman itu menjawab “Haram shalat setelah matahari naik!” Oleh karena itu, orang tersebut mengabaikan shalat subuh dan tidak shalat sama sekali karena menganggap hal itu haram.

    Itu suatu persepsi yang sangat keliru. Shalat subuh wajib dikerjakan, jam berapa saja kita bangun (dan begitu juga untuk semua shalat wajib yang lain). Kalau umpamanya kita capek, bangun pada waktu subuh dalam kondisi setengah sadar, matikan jam alarm, tidur lagi, dan bangun pada jam 8 pagi, maka pada saat bangun itu masih wajib mengerjakan subuh. Walaupun matahari sudah naik. Kenyataan bahwa matahari sudah naik tidak menghilangkan kewajiban untuk shalat. (Dan kalau ketiduran lewat waktu maghrib sehingga masuk Isya, maka shalat maghrib tetap wajib dikerjakan, walaupun di luar waktunya.)

    Waktu yang secara umum dilarang untuk shalat adalah mengerjakan shalat pada saat matahari sedang muncul (bukan cahayanya, tetapi bentuk fisik matahari sendiri). Hal itu diharamkan untuk hilangkan persepsi (pada zaman dulu) bahwa orang Muslim adalah penyembah matahari. Zaman dulu, memang ada kaum yang menyembah matahari, dan mereka beribadah pada saat matahari mulai kelihatan bentuk fisiknya, jadi ibadah pada saat itu diharamkan bagi ummat Islam. TETAPI ulama telah sepakat bahwa kalau ada shalat wajib yang belum dikerjakan, maka harus langsung dikerjakan (diganti, atau diqadha’) pada waktu itu juga tanpa harus menunggu, walaupun dilarang secara umum untuk shalat pada waktu tersebut.

    Yang haram dan sangat buruk adalah kalau seseorang sudah bangun pada waktu subuh, tetapi barangkali dia sedang asyik nonton siaran langsung sepak bola di tivi, atau asyik ngobrol sama temannya, dan oleh karena itu dia malas melakukan subuh. Pada saat dia sudah selesai nonton bola, dan sudah “bersedia” melakukan shalat, maka dia masih wajib melakukannya. Kewajiban shalat itu tidak menjadi hilang. Tetapi tentu saja dia akan kena dosa besar karena sengaja menunda sebuah shalat wajib, sehingga sudah keluar dari waktunya, tanpa ada alasan yang benar. Jadi sudah bisa diperkirakan bahwa dia tidak akan dapat pahala sama sekali, dan juga ada kemungkinan Allah akan menolak shalat itu (tidak akan diterima di sisi Allah, seolah-olah tidak shalat). Walaupun begitu, sebagai seorang Muslim dia masih memiliki kewajiban untuk melakukan shalat subuh tersebut. Meninggalkannya dengan alasan kesiangan, ataupun di luar waktu karena nonton bola tadi adalah alasan yang tidak benar. Tetap wajib dikerjakan.

    Dan perlu dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah kesiangan untuk shalat subuh, jadi hal itu menjadi petunjuk bagi kita bahwa kalau kita kesiangan sewaktu-waktu maka itu adalah hal yang biasa (bukan suatu dosa besar, karena memang tidak sengaja), dan Nabipun juga mengalaminya. Yang penting adalah kita langsung mengerjakan shalat setelah kita bangun, dan jangan sampai shalat subuh yang kesiangan itu menjadi suatu kebiasaan bagi kita.

    Rasulullah SAW Pernah Kesiangan Untuk Shalat Subuh
    Diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a, yang berkata: Pada suatu malam kami menempuh perjalanan bersama Nabi s.a.w, sebagian orang mengatakan: “Ya Rasulullah! Sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan shalat subuh.” Kata Bilal : “Saya akan membangunkan kalian.” Mereka semua akhirnya tidur, sementara Bilal menyandarkan punggungnya pada hewan tunggangannya, namun Bilal akhirnya tertidur juga. Nabi s.a.w bangun ketika busur tepian matahari sudah muncul. Kata Nabi s.a.w: “Hai Bilal! Mana bukti ucapanmu?!” Bilal menjawab: “Saya tidak pernah tidur sepulas malam ini”. Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun Dia mau dan mengembalikannya kapanpun Dia mau. Hai Bilal! bangunlah dan suarakan azan.” Rasulullah s.a.w berwudhu, setelah matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih, Rasulullah s.a.w berdiri untuk melaksanakan shalat.
    (Hadits Shahih Imam Bukhari, nomor 595)

    Siapa Yang Lupa Tidak Shalat, Segera Laksanakan Ketika Ingat
    Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwa Nabi s.a.w pernah bersabda: “Siapa yang lupa untuk melaksanakan shalat, maka laksanakanlah ketika ingat, tanpa kaffarah [denda] atas lupanya itu kecuali dengan mengerjakan shalat tersebut.” Kemudian Rasulullah s.a.w membaca ayat (yang artinya): “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Al-Qur’an surat Thaahaa, ayat 14).
    (Hadits Shahih Bukhari, nomor 597)

    Rasulullah SAW Pernah Shalat Ashar Pada Waktu Maghrib
    Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa pada saat perang Khandaq, Umar bin Khattab datang setelah matahari terbenam. Umar mencaci-maki orang-orang kafir Quraisy. Kata Umar: “Ya Rasulullah! Saya hampir saja tidak melaksanakan shalat Asar sampai matahari hampir terbenam”. Nabi s.a.w bersabda: “Demi Allah! Aku belum melaksanakan shalat Asar.” Kata Jabir: Kami pergi ke Buthhan, kemudian Nabi s.a.w berwudhu untuk shalat dan kami pun berwudhu, lalu Nabi s.a.w melaksanakan shalat Asar setelah matahari terbenam, setelah itu beliau melaksanakan shalat Maghrib.
    (Hadits Shahih Bukhari, nomor 596)

    DAHSYATNYA PAHALA MEMBERI MAKAN BERBUKA PUASA

    Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,
    “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” HR. Tirmidzi no. 807

    Di antara keutamaan bagi orang yang memberi makan berbuka adalah keutamaan yang diraih dari do’a orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

    “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396.

    Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/194

    Tak lupa pula, ketika kita memberi makan berbuka, hendaklah memilih orang yang terbaik atau orang yang sholih. Carilah orang-orang yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Karena ingatlah harta terbaik adalah di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash,
    “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih.”. HR. Ahmad 4/197.

    Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, 298)

    Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984)

    Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.”

    “ALLAH SWT BERI APA YG KITA BUTUHKAN, BUKAN YG KITA INGINKAN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s